Tampilkan postingan dengan label BiAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BiAS. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Februari 2017

Adab Dalam Berkomunikasi di Media Sosial


ADAB DALAM BERKOMUNIKASI DI MEDIA SOSIAL

Pertanyaan:
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bagaimana kita menyikapi media sosial yang semakin mudah memberikan kabar ke teman atau saudara? Sehingga memungkinkan kita untuk berkomunikasi kepada lawan jenis. Padahal kita berkomunikasi hanya bermaksud memberi kabar kost teman-teman lama.
جَزَاك اللهُ خَيْرًا
(Dari Umi Ma'rifah di Taiwan Anggota Grup WA Bimbingan Islam T06 G58)

Jawab:

Medsos adalah sarana yang dapat digunakan untuk sesuatu yang mubah, dapat pula untuk sesuatu yang bernilai ibadah, maupun untuk maksiat.

Bila medsos digunakan untuk hal-hal yang tujuannya mubah, seperti komunikasi dengan bahasa yang sopan (tidak genit), maka hukumnya mubah. Hanya saja, penggunaan medsos tetap perlu dibatasi agar tidak berlebihan dalam yang mubah, sehingga bergeser kepada yang dilarang.

Intinya, perhatikan poin-poin berikut:

1. Siapa yang akan diajak berkomunikasi? (mahram atau bukan). Kalau mahram, maka tidak mengapa. Tapi kalau bukan, maka batasi dan seperlunya saja.

2. Gunakan bahasa yang jelas dan tidak genit. Karena tulisan hukumnya sama dengan ucapan. Kita dilarang berkomunikasi dengan selain mahram, kecuali dengan nada bicara yang tegas dan tidak genit (merangsang syahwat lawan jenis).

3. Jangan share berita tentang amal shalih kita, karena ini mengundang sifat riya’ (ingin pamer), dan ini bisa membatalkan pahala amal kita.

4. Jangan berlebihan dalam berkomunikasi via medsos, namun sebatas yang diperlukan saja.

5. Jangan share foto-foto pribadi agar tidak disalahgunakan.

6. Jangan share foto orang lain, kecuali dengan seizinnya dan demi kemaslahatan syar’i (Contoh: men-share foto saudara kita yang jadi korban suatu musibah, atau yang sedang terbaring di Rumah Sakit, dan semisalnya).

Karena setiap muslim punya harga diri dan kehormatan yang tidak boleh dilanggar, dan tidak setiap orang ridha foto dirinya dalam kondisi tertentu disebarluaskan, karena ini bisa masuk ke dalam ghibah (menceritakan hal-hal yang tidak disukai saudara kita terkait dirinya tanpa sepengetahuan dia).

7. Jangan share foto makhluk bernyawa (hewan dan manusia) kecuali demi kemaslahatan syar’i yang mu’tabar.

8. Jangan asal sebarkan berita kecuali yang telah diklarifikasi kebenarannya dan bermanfaat untuk diketahui orang lain. Tidak semua berita yang tersebar itu benar, dan tidak semua berita yang benar itu pantas disebar. Kalaupun ia pantas disebar, maka tidak semua orang akan mendapat manfaat dari berita itu.

Bahkan boleh jadi bagi sebagian kalangan, sesuatu yang bermanfaat bagi kita akan menimbulkan madharat bagi orang lain karena disalah fahami. Jadi, pilih-pilihlah yang seksama dalam men-sharing sesuatu.

Demikian, wallaahu a’lam.

Konsultasi Bimbingan Islam
Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA

Sabtu, 14 Jumadal Ūla 1438 H / 11 Februari 2017 M

Sumber: http://www.bimbinganislam.com/konsultasi/25-adab-akhlak/725-adab-dalam-berkomunikasi-di-media-sosial

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Click
🌍 BimbinganIslam.com

Like & Share
👥 Facebook Page :
Fb.com/Info.BimbinganIslam
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
Fb.com/BimbinganMuamalahMaaliyah

Join Us
📣 Telegram Channel :
Telegram.me/TJBiAS
Telegram.me/TausiyahBimbinganIslam
Telegram.me/BimbinganMuamalahMaaliyah
__________

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎 www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
----------------------------------------⁠⁠⁠⁠
BACA SELENGKAPNYA

Jumat, 10 Februari 2017

Larangan Mencela Orang yang Telah Meninggal Dunia


LARANGAN MENCELA ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan Akhawāt BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita masuk pada hadīts yang ke-23, dari 'Āisyah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā, beliau berkata, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
لَا تَسُبُّوا الأَمْوَاتِ فَإِنَّهُم قَدْ أَفْضَوا إلَى مَا قَدَّمُوْا
"Janganlah kalian mencaci mayat-mayat, sesungguhnya mereka telah sampai kepada hasil dari amalan yang mereka lakukan di dunia."

(Hadīts riwayat Imām Al Bukhāri nomor 6035, versi Fathul Bari nomor 6516)

Ikhwān dan Akhawāt yang dirahmatin oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah menjadikan kehormatan seorang muslim termasuk dari perkara yang besar diantara kehormatan-kehormatan yang terbesar.

Dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjaga kehormatan seorang muslim atau muslimah.

Oleh karenanya dalam satu hadīts, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tatkala melihat Ka'bah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:
مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالْمُؤْمِنُ أَعْظَمُ حُرْمَةً عِنْدَ اللَّهِ مِنْكِ،
"Betapa agung engkau wahai Ka'bah, dan betapa agung kehormatanmu, dan orang mu'min memiliki kehormatan yang lebih besar disisi Allāh daripada kehormatanmu, wahai Ka'bah."

(Hadīts Riwayat At Tirmidzi no 2032, dihasankan oleh Syaikh Al Albāniy rahimahullāh dalam shahīh sunan At Tirmidzi 2/391, Maktabah Al-Ma'ārif cet 1/1420H)

⇒ Kita tahu bahwasanya Ka'bah diagungkan, ternyata seorang mu'min kehormatannya lebih agung disisi Allāh dari pada kehormatan Ka'bah.

Dan ternyata Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadikan kehormatan seorang muslim dan muslimah bukan hanya tatkala dia masih hidup, bahkan kehormatannya berlaku dan terus diakui oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla meskipun dia sudah meninggal dunia.

Oleh karenanya kehormatannya bukan hanya dijaga tatkala dia masih hidup, bahkan tatkala dia sudah meninggal dunia lebih ditekankan untuk dijaga lagi kehormatannya.

Oleh karenanya Al Imām Al Bukhāri, meriwayatkan dari Ibnu 'Abbās radhiyallāhu Ta'āla 'anhuma dimana Ibnu 'Abbās menghadiri penyelenggaraan jenazah Maemunah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā (istri Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam) di suatu tempat namanya Saraf maka Ibnu 'Abbās berkata kepada orang-orang yang akan mengusung jenazah Maemunah:
هذه زوجة النبي صلى الله عليه وسلم فإذا رفعتم نعشها فلا تزعزعوها ولا تزلزلوها وارفقوا
"Ini adalah istri Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, maka jika kalian mengangkat kerandanya, maka janganlah kalian mengerak-gerakannya, dan janganlah kalian mengoncang-goncangkannya tetapi angkatlah dengan lembut."

(Hadīts shahīh riwayat Bukhāri no 5067, Muslim no 1465, An Nasāi' no 3196)

Ibnu Hajar rahimahullāh dalam Fathul Bāri' berkata:
يستفاد منه أن حرمة المؤمن بعد الموت باقية، كما كانت في حياته
Sesungguhnya diambil faedah dari hadīts inii, bahwasanya, "Kehormatan seorang mu'min setelah dia meninggal tetap berlaku sebagaimana tatkala dia masih hidup."

Dan juga ada hadīts lain:
إِنَّ كَسْرَ عِظَمِ الْمُؤْمِنِ مَيِّتًا مِثْلَ كَسْرِهِ حَيًّا
"Dan mematahkan (menghancurkan) tulang seorang mu'min tatkala dia sudah meninggal dunia sama dengan tatkala dia masih hidup."

(Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd no 3191, Ibnu Ibnu Mājah I/516 no 1616)

⇒ Ini penjelasan Ibnu Hajar rahimahullāh Ta'āla.

Ini dalīl bahwasanya kehormatan seorang mu'min masih berlaku bahkan tatkala dia sudah meninggal dunia.

Oleh karena itu Ibnu 'Abbās mewasiatkan agar istri Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diangkat dengan pelan-pelan, tidak boleh digoncang-goncangkan (digerak-gerakan), karena beliau (Maemunah radhiyallāhu Ta'āla 'anhā) tetap terhormat meskipun sudah meninggal dunia.

Kemudian, sebagaimana kita ketahui bahwasanya dalīl-dalīl dalam syari'at yang mengharāmkan mencela seorang muslim secara mutlak, tidak ada perbedaan apakah dia masih hidup atau sudah meninggal dunia.

Contohnya seperti Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ
"Mencela seorang muslim adalah kefāsikan."

(Hadīts riwayat Muslim no 64 dan Bukhāri no 48,6044,7076 dari hadīts Ibnu Mas'ūd radhiyallāhu Ta'āla 'anhu)

Syari'at tidak mengatakan, "Kecuali kalau sudah meninggal dunia."

Ini menunjukan bahwasanya syari'at memperhatikan hak seorang muslim tidak membedakan apakah dia masih hidup atau sudah meninggal dunia.

Tatkala dia sudah meninggal dunia penekanan untuk mengharāmkan pencelaan terhadap seorang muslim lebih ditekankan lagi, karena ada hadīts khusus yang menjelaskan larangan secara khusus bagi mencela seorang muslim yang sedang meninggal dunia, sebagaimana hadīts yang sedang kita jelaskan.

Kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:
لَا تَسُبُّوا الأََموَاتِ فَإِنَّهُم قَد أَفضَوا إِلَى مَا قَدَّموا
"Janganlah kalian mencela mayat-mayat yang sudah meninggal dunia, karena sesungguhnya mereka telah sampai kepada hasil amalan yang mereka lakukan tatkala didunia."

(Hadīts shahīh Riwayat Bukhāri nomor 1393)

Dan hadīts ini diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan beliau membuat hadīts ini dengan bab Mā yunha min sabil amāt tentang, "Apa yang dilarang dalam mencela mayat-mayat".

Ikhwān dan Akhawāt BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Hadīts ini menunjukan bahwasanya mencela orang yang sudah meninggal dunia lebih parah hukumnya dari pada mencela orang yang masih hidup.

Karenanya sebagian ulamā menyatakan, kalau orang masih hidup kita cela kemudian sampai celaan kepada orang tersebut, maka orang tersebut, bila ternyata memang orang tersebut bersalah, bisa menperbaiki dirinya.

Karena ada masukan meskipun masukan tersebut datang dalam bentuk celaan maka dia bisa merubah dirinya.

Adapun mayat kalau kita mencela dia, apa faedahnya?

Karena dia sudah meninggal dunia tidak bisa memperbaiki dirinya lagi kalau pun dia bersalah. Karena dia (orang yang meninggal) sudah sampai pada hasilnya (sudah selesai) sudah tidak bisa lagi beramal lagi di dunia.

Kemudian kalau celaan tersebut tidak benar dan sampai kepada orang yang masih hidup maka orang yang masih hidup masih bisa membela diri, jika celaan tersebut tidak benar. Adapun bila orang "sudah" meninggal dunia maka dia tidak bisa membela dirinya.

Oleh karenanya mencela orang yang sudah meninggal hukumnya lebih parah dari pada mencela orang yang masih hidup.

Kita akan lanjutkan pembahasan ini pada pertemuan berikutnya, In syā Allāhu Ta'āla.

Artikel BimbinganIslam.com

Jum'at, 13 Jumadal Ūla 1438 H / 10 Februari 2017 M
Dr. Firanda Andirja, MA

Kitābul Jāmi' - Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadits 23 - Larangan Mencela Orang Yang Telah Meninggal Dunia (Bagian 1 dari 2)

Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H23-1
_________

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎 www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
-----------------------------------------⁠⁠⁠⁠
BACA SELENGKAPNYA

Larangan Mencela, Melaknat, dan Berkata Kasar Serta Kotor


LARANGAN MENCELA, MELAKNAT DAN BERKATA KASAR SERTA KOTOR

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Ikhwān dan Akhawāt BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita masuk pada hadīts yang ke-22 dari hadīts dari Ibnu Mas'ūd radhiyallāhu 'anhu secara marfu', Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
لَيْسَ المُؤْمِنُ بِالطَعَّانِ، وَلَا اللَعَّانِ، وَلَا الفَاحِشِ، وَلَا البَذِءِ
"Bukanlah seorang mu'min, orang yang suka mencela, orang yang suka melaknat dan orang yang suka berkata-kata kasar dan juga berkata-kata kotor."

‌(Hadīts ini kata Al Hafizh Ibnu Hajar dihasankan oleh Imām Tirmidzi dan di shahīhkan oleh Al Hakim dan Imām Ad Daruquthi merajīhkan hadīts ini, hadīts yang mauquf)

Hadīts ini diperselisihkan oleh para ulamā. Sebagian ulamā menyatakan hadīts ini marfu' (yaitu) diriwayatkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dan sebagian ulamā mengatakan riwayatnya adalah mauquf (artinya) diriwayatkan dari shahābat (yaitu) merupakan perkataan Ibnu Mas'ūd dan bukan perkataan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.

⇒ Hadīts ini, apakah dia mauquf atau marfu', namun maknanya benar.

Bahwasanya seorang mu'min tidak boleh membiasakan dirinya untuk طَعَّان (mencela orang lain) tetapi hendaknya dia membiasakan dirinya untuk mengucapkan kata-kata yang baik.

Bukankah Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
"Dan ucapkanlah kepada manusia dengan perkataan yang baik."

(QS Al Baqarah: 83)

Adapun seseorang yang membiasakan dirinya untuk:

√ Melaknat orang lain,
√ Mencela,
√ Mencari-cari aib orang lain,
√ Menjatuhkan orang lain,
√ Berkata-kata kotor,
√ Berkata-kata kasar.

⇒ Maka ini menunjukan dia bukan mu'min yang sejati, dia tidak sempurna imānnya.

Karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata, "Laisalmu'min" (bukanlah mu'min yang sempurna), ini menunjukan imānnya rendah.

Karena imānnya tidak bisa mencegah dia untuk berkata-kata kotor (berkata-kata kasar), berarti imānnya dipermasalahkan.

Oleh karenanya, shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Seorang berusaha membiasakan dirinya untuk berkata-kata yang baik karena lisan ini berbahaya.

Bukankah dalam hadīts yang mashyur dari Mu'ādz bin Jabbal radhiyallāhu Ta'āla 'anhu, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata kepada Mu'ādz bin Jabbal:
كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا
"Tahanlah lisānmu."

Sehingga Mu'ādz bin Jabbal bertanya:
يَا رسولَ الله وإنَّا لَمُؤاخَذُونَ بما نَتَكَلَّمُ بِهِ؟
"Yā Rasūlullāh, apakah kita akan disiksa oleh Allāh, karena ucapan kita?"

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:
وَهَلْ يَكُبُّ الناسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟
"Wahai Mu'ādz, bukankah yang menjerumuskan manusia dalam neraka jahannam, menjerumuskan mereka diatas wajah-wajah mereka kecuali akibat dari perbuatan lisān-lisān mereka?"

(Hadīts riwayat Tirmidzi)

⇒ Lisān ini berbahaya maka jangan dibiasakan lisānnya berkata-kata kotor.

Seorang yang bijak pernah berkata:
عود لسانك قول الخير تحظبه، ان السنا لما عودت لا يعتد
"Biasakanlah lisānmu untuk mengucapkan kata-kata yang baik, maka engkau akan meraih hal tersebut (artinya engkau akan terbiasa mengucapkan kata-kata yang baik), karena lisān itu tergantung apa yang engkau biasakan."

Kalau seorang terbiasa (membiasakan) berkata-kata baik, ini bisa dilatih, maka dia akan terbiasa mengucapkan kata-kata yang baik. kalau seseorang biasa menahan dirinya untuk tidak mencela orang lain maka lisānnya akan terbiasa.

Tapi kalau dia biarkan lisānnya, terbiasa untuk mencela, terbiasa merendahkan, terbiasa berkata kotor maka lisānnya akan terbawa kepada hal tersebut.

Sebagian penyair pernah berkata:
احفَظْ لِسانَكَ أَيُّهَا الإِنْسانُ لا يَلْدَغَنَّكَ إِنَّهُ ثُعْبانُ
"Jagalah lisānmu wahai manusia jangan sampai engkau tersengat oleh lisānmu karena lisānmu adalah ular."
كَمْ في المقابِرِ مِنْ قَتيلِ لِسانِهِ كانَتْ تَهابُ لِقَاءَهُ الشُّجعانُ
"Betapa banyak orang dikuburan menjadi korban dari lisānnya padahal sewaktu dia masih hidup dahulu dia ditakuti oleh orang-orang pemberani."

⇒ Artinya, ada orang hebat di dunia, ditakuti oleh orang, ternyata waktu dikuburan dia menjadi korban lisānnya.

Kenapa?

Karena disiksa oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla karena dia menjadi korban lisānnya sendiri, (dahulu didunia dia suka mencela, suka memaki, suka melaknat).

Oleh karenanya seorang harus berusaha untuk menjaga lisānnya jangan sampai dia menjadi seorang yang suka melaknat dan mencela dan merendahkan orang lain, berkata-kata kotor.

Ini semua dibenci oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Wallāhu Ta'āla A'lam bish Shawwab

Artikel BimbinganIslam.com

Kamis, 12 Jumadal Ūla 1438 H / 09 Februari 2017 M
Dr. Firanda Andirja, MA

Kitābul Jāmi' - Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
Hadits 22 - Larangan Mencela, Melaknat Dan Berkata Kasar Serta Kotor

Download audio
_________

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎 www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
-----------------------------------------⁠⁠⁠⁠
BACA SELENGKAPNYA

Selasa, 07 Februari 2017

Khutbah Jum'at : Kemenangan Yang Hakiki


🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 06 Jumadal Ūla 1438 H / 03 Februari 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📔 Khutbah Jum'at | Kemenangan Yang Hakiki
⬇ Download audio bagian 1: bit.ly/BiAS-FA-KhutbahJumat-KemenanganYangHakiki-01
⬇ Download audio bagian 2: bit.ly/BiAS-FA-KhutbahJumat-KemenanganYangHakiki-02
🌐 Sumber: https://youtu.be/tMCHV9D4KGg
-----------------------------------

KEMENANGAN YANG HAKIKI

KHUTBAH BAGIAN PERTAMA

الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه


أوصيكم و نفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون.
"Aku wasiat kepada diriku dan kepada Anda sekalian untuk bertaqwa kepada Allāh sesungguhnya telah beruntung orang orang yang bertaqwa."

Pada hari ini banyak orang berbicara tentang kemenangan, akan tetapi pembicaraan mereka kebanyakan adalah tentang kemenangan duniawi.

√ Ada yang bangga karena menang dalam lomba tertentu.
√ Ada yang bangga karena menang dalam tender.
√ Bahkan ada sebagian orang yang senang dan bangga karena menang dalam hal-hal yang diharāmkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, seperti menang dalam perjudian.

Kebanyakan mereka lupa bahwasanya kemenangan yang sesungguhnya, yang hakiki, adalah:

√ Kemenangan dengan meraih kenikmatan yang abadi.
√ Kenikmatan yang sempurna dan selama-lamanya yaitu meraih surga Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
√ Dan terhindar dari hal yang sangat menakutkan yaitu adzab yang abadi. Adzab yang sangat mengerikan, yang sangat dahsyat, yaitu adzab neraka Jahannam.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah mengisyaratkan kemenangan hakiki ini dalam firman-Nya:
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
Setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian dan sesungguhnya amalan kalian akan disempurnakan pada hari kiamat kelak. Barangsiapa yang diselamatkan dari neraka Jahannam dan dimasukkan dalam surga, maka dia telah menang, itulah kemenangan yang hakiki. Dan tidaklah kehidupan dunia kecuali kesenangan yang menipu.

(QS 'Ali 'Imrān: 185)

Kemenangan yang hakiki tatkala seseorang bisa masuk surga, tatkala mendapatkan kenikmatan yang selama-lamanya, barangsiapa yang masuk surga, maka dia akan senang terus, dia akan muda terus dan dia tidak akan tua selama-lamanya, dia akan sehat dan dia tidak akan sakit selama lamanya.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan dalam hadītsnya:
يُنَادِي مُنَادٍ إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلاَ تَسْقَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلاَ تَمُوتُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلاَ تَهْرَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلاَ تَبْتَئِسُوا أَبَدًا
Tatkala di surga kelak maka ada yang menyeru kepada para penghuni surga:
"Sesungguhnya kalian di surga akan senantiasa sehat dan tidak akan sakit selama-lamanya. Dan kalian akan senantiasa hidup dan tidak akan mati selama lamanya. Dan sesungguhnya kalian dalam surga akan senantiasa muda dan tidak akan tua selama-lamanya. Dan sesungguhnya kalian akan senang selama-lamanya dan tidak akan susah selama-lamanya."

(Hadīts Riwayat Muslim nomor 2837)

Dan ini sesuai dengan firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:
 ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ
"Masuklah kalian ke dalam surga, tidak ada lagi rasa kekhawatiran dan tidak ada lagi rasa kesedihan bagi kalian."

(QS Al A'rāf: 49)

Adapun kenikmatan dunia, betapa pun seorang diberi kenikmatan, hebatnya kenikmatan dunia dia pasti terkontaminasi dengan kesedihan dan kekhawatiran, siapapun dia.

√ Apakah dia orang terkaya di dunia.
√ Apakah dia seorang pejabat.
√ Apakah dia seorang jendral, panglima.

Dia juga pasti takut dia juga pasti khawatir.

√ Apakah dia seorang raja, raja dunia.
√ Apakah dia seorang presiden?

Dia pasti pernah sakit. Dia pasti pernah diselimuti dengan kesedihan. Dia pasti pernah diselimuti dengan kekhawatiran.

Yang kaya khawatir hartanya hilang, khawatir usahanya jatuh, khawatir ditipu. Sementara pejabat, khawatir jabatannya direbut oleh orang lain.

Demikianlah yang namanya kenikmatan dunia tidak ada yang sempurna. Bagaimanapun seorang hebat di dunia ini, dia pasti terkontaminasi dengan kesedihan dan kekhawatiran.

Adapun di surga, kenikmatan sempurna tidak ada sedikitpun kesedihan dan tidak ada sedikitpun kekhawatiran.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berkata kepada nabi Ādam 'alayhissalām:
إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى * وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَاتَضْحَى
"Wahai Ādam, engkau di surga engkau sama sekali tidak akan lapar dan engkau tidak akan telanjang dan engkau tidak akan haus dan engkau tidak akan kepanasan."

(QS Thāhā: 118-119)

Kenapa?

Karena di surga adalah tempat kenikmatan yang abadi.

Kemudian kemenangan yang hakiki adalah tatkala seseorang terselamatkan dari adzab yang sangat pedih adzab neraka Jahannam. Panas neraka Jahannam 70 kali lipat dari panas dunia.

Bagaimana tidak panas? Sementara bahan bakarnya adalah manusia dan batu.
فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
"Takutlah kalian kepada neraka yang bahan bakarnya adalah dari manusia dan batu."

(QS Al Baqarah: 24)

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ 
"Wahai orang-orang berimān, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka Jahannam, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu."

(QS At Tahrim: 6)

Dan neraka Jahannam, tatkala membakar bukan hanya membakar bagian luar terlebih dahulu, baru kemudian bagian dalam akan tetapi sekaligus membakar luar dan dalam.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:
نَارُ ٱللَّهِ ٱلۡمُوقَدَةُ ٦ ٱلَّتِى تَطَّلِعُ عَلَى ٱلۡأَفۡـِٔدَةِ ٧
"Neraka Allāh yang dinyalakan (yang dipanaskan), yang membakar masuk ke dalam hati hati manusia."

(QS Al Humazah: 6-7)

Mereka dibakar, jantung mereka dibakar sementara mereka dalam kondisi hidup dan tidak mati.
لَا يَمُوتُ فِيہَا وَلَا يَحۡيَىٰ
"Mereka tidak hidup dan tidak mati."

(QS Thāhā: 74)

Dalam kondisi seperti mati akan tetapi tidak mati, hidup dibakar hidup-hidup oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Oleh karenanya para penghuni neraka Jahannam mereka amat sangat tersiksa, sehingga mereka amat kehausan dan amat kelaparan.

Diantara hal yang membuat mereka tersiksa lagi yaitu mereka melihat kenikmatan yang dirasakan para penghuni surga.

Allāh membiarkan mereka para penghuni neraka Jahannam melihat sebagian kenikmatan penghuni surga sehingga penghuni neraka menyeru meminta makanan dan minuman kepada penghuni surga.
وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ 
Maka penghuni neraka menyeru kepada penghuni surga: "Berikanlah kepada kami sebagian air minum kalian dan sebagian makanan kalian."
 قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ
Maka penghuni surga menjawab: "Sesungguhnya makanan dan minuman ini harām bagi orang-orang yang kāfir."

(QS Al A'rāf: 50)

Mereka minta makan dan minum kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla karena mereka sangat kelaparan dan mereka sangat kehausan, telah lama mereka dijemur dibawah terik matahari tatkala dipadang Mahsyar ribuan tahun dengan jarak matahari satu mil sehingga mereka kelaparan dan kehausan.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan kepada mereka makanan, namun makanan yang sangat menyiksa diantara makanan mereka adalah dhari'.
لَّيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِن ضَرِيعٍ 
"Tidak ada makanan bagi mereka kecuali dhari'."

(QS Al Ghāsyiyah: 6)

Dhari' adalah makanan buah yang berduri yang tatkala mereka makan buah tersebut nyangkut di kerongkongan mereka.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:
وَطَعَامًا ذَا غُصَّةٍ وَعَذَابًا أَلِيمًا 
"Makanan yang nyangkut di kerongkongan."

(QS Muzzammil: 13)

Makanan ini tidak bisa masuk, jadi sangat menyakitkan. Apalagi berduri kemudian merobek kerongkongan. Ini adalah hal yang sangat menyakitkan.

سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك
-----------------------------------------



KHUTBAH BAGIAN KEDUA

الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوان

Para penghuni neraka Jahannam mereka sangat tersiksa, sehingga mereka kehausan dan kelaparan, diantara makanan yang mereka makan adalah buah zaqqūm
لآكِلُونَ مِنْ شَجَرٍ مِنْ زَقُّومٍ
Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

"Mereka akan makan dari buah zaqqūm buah yang sangat bau yang sangat menjijikkan."

(QS Wāqi'ah: 52)

Kata Nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam:
 لَوْ أَنَّ قَطْرَةًمِنَ الزَّقُّومِ قُطِرَتْ فِي دَارِ الدُّنْيَا لَأَفْسَدَتْ عَلَى أَهْلِ الدُّنْيَامَعَايِشَهُمْ 
"Seandainya ada satu tetes dari getahnya zaqqūm jatuh di atas muka bumi ini maka akan merusak kehidupan penduduk bumi seluruhnya."

(Hadits riwayat Tirmidzi nomor 2585)

Ibarat seorang yang hidup dengan fasilitas yang mewah (dirumahnya) semuanya ada akan tetapi dalam rumahnya ada bangkai yang busuk maka ini tidak akan bisa hidup dengan tentram.

Kenapa? Karena baunya bangkai tersebut.

Ini satu tetes zaqqūm kalau jatuh di atas muka bumi akan menimbulkan bau yang sangat busuk dan menjadikan orang-orang penghuni bumi tidak bisa hidup dengan tentram.

Bagaimana jika buah tersebut kemudian menjadi makanan seseorang? (yaitu) makanan penghuni neraka Jahannam.
فَمَالِـُٔونَ مِنۡہَا ٱلۡبُطُونَ
Maka akhirnya, karena laparnya mereka, mereka tahu buah itu tidak enak, buah yang sangat busuk, namun mereka harus makan sehingga mereka memenuhi perut mereka dengan buah-buah tersebut.

Setelah mereka makan merekapun kehausan mereka minta minum kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Allāh beri minuman kepada mereka, Allāh beri nanah kepada mereka dan Allāh beri kepada mereka air yang sangat panas.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:
 وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ
"Maka mereka pun diberi air yang sangat panas dan air panas tersebut mencabik-cabik usus mereka."

(QS Muhammad: 15)

Sungguh mengerikan dan mengenaskan nasib para penghuni neraka Jahannam.

Mereka dibakar hidup-hidup dan mereka tidak mati, maka mereka pun mohon agar segera dimatikan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ ۖ
Mereka berkata:

"Wahai malāikat Mālik, mintalah kepada Allāh agar mematikan kami."

Namun tidak ada jawaban.

Kata Mālik:
إِنَّكُم مَّاكِثُونَ
"Kalian akan tetap selama-lamanya dalam neraka Jahannam"

(QS Az Zukhruf: 77)

Siksaan yang sangat pedih yang mereka rasakan sampai-sampai kehilangan akal sehat mereka.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla :
يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِي مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ بِبَنِيهِ ١١ وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ ١٢ وَفَصِيلَتِهِ الَّتِي تُؤْوِيهِ ١٣ وَمَن فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنجِيهِ ١٤ كَلَّا ۖ إِنَّهَا لَظَىٰ ١٥
"Tatkala itu penghuni neraka Jahannam, berangan-angan seandainya adzabnya bisa ditebus dengan anak-anaknya, istrinya, saudara kandungnya, kabilahnya yang selama ini membelanya, dan seluruh manusia di atas muka bumi, kemudian mengharapkan tebusan itu dapat menyelamatkannya. (Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla), sekali-kali tidak."

(QS Al Ma'ārij: 11-15)

(Kita tahu di dunia ini seorang bahkan rela mati untuk membela anak-anaknya namun tatkala di neraka Jahannam, penghuni neraka Jahannam ingin anak-anaknya masuk neraka yang penting dia selamat).
 وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ
Bahkan dia ingin istrinya masuk neraka, saudara kandungnya masuk neraka yang penting dia selamat.
وَفَصِيلَتِهِ الَّتِي تُؤْوِيهِ
Bahkan kabilahnya yang selama ini membelanya yang mengayominya, dia ingin mereka semua masuk neraka yang penting dia selamat dia ingin menjadikan mereka sebagai tumbal.
وَمَن فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنجِيهِ
Bahkan dia ingin seluruh manusia di atas muka bumi tidak mengapa masuk neraka yang penting dia selamat.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla :
كَلَّا ۖ إِنَّهَا لَظَىٰ
Sekali-kali tidak, akan tetapi yang didapatkan neraka yang menyala-nyala.

Karena mereka tahu putus asa (penghuni neraka Jahannam) putus asa karena mereka tahu bahwasanya mereka tidak akan mati, maka mereka minta kepada Allāh agar dikurangi adzabnya.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِّنَ الْعَذَابِ 
Berkata para penghuni neraka Jahannam kepada para penjaga neraka Jahannam:

"Berdo'alah kepada Rabb kalian, mintalah kepada Rabb kalian agar mengurangi adzab kami, meskipun hanya sehari saja."

(QS Ghāfir: 49)

Jawabannya:

Tidak ada pengurangan.

Bahkan jawabannya sangat menakjubkan, mereka mengagetkan mereka, bukannya Allāh mengurangi adzab mereka bahkan Allāh tambah.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:
فَذُوقُواْ فَلَن نَّزِيدَكُمۡ إِلَّا عَذَابًا
"Rasakanlah dan kami tidak akan tambahkan kepada kalian kecuali adzab yang pedih."

(QS An Nabā': 30)

Tatkala itu yang mereka lakukan hanyalah teriakan, yang bisa mereka lakukan hanyalah teriakan dan penyesalan
وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا
"Mereka berteriak dalam neraka Jahannam teriakan kesakitan."
 رَبَّنَا أَخْرِجْنَا
"Yā Allāh, keluarkanlah kami."
نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَل
"Kami akan mengerjakan amal shālih, kami menyesal atas perbuatan kami."

(QS Fāthir: 37)

⇒ Namun penyesalan yang tiada guna.

Oleh karenanya kemenangan yang hakiki adalah seorang meraih surga Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan selamat dari adzab neraka Jahannam.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ 
"Sesungguhnya orang-orang yang berimān dan beramal shālih maka bagi mereka Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai itulah kemenangan yang besar."

(QS Burūj: 11)

Kalau kemenangan yang hakiki adalah meraih Surga Allāh, terselamatkan dari neraka Jahannam, maka kegagalan yang hakiki adalah seorang terjerumus dalam neraka Jahannam.

Percuma seorang di dunia meraih kekayaan, membangun istana, memiliki jabatan, seorang panglima yang ditakuti, tetapi tatkala diakhirat kemudian dia masuk neraka Jahannam.
 قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
"Katakanlah bahwasanya orang-orang yang merugi yaitu orang orang yang merugikan diri mereka dan keluarga mereka pada hari kiamat kelak (yaitu mereka masuk dalam neraka Jahannam), ketahuilah bahwasanya itu adalah kerugian yang sangat jelas."

(QS Az Zummar: 15)

Itulah kegagalan yang sesungguhnya, kegagalan yang hakiki.

Maka seorang di dunia berusaha untuk beramal shālih.

Sekarang kita masih hidup masih bisa beramal shālih, sebagaiman kata Ali bin abi Thālib Radhiyallāhu Ta'āla 'anhu:
الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَاب َوَغَداً حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ
"Sekarang adanya amalan dan tidak ada hisab, nanti diakhirat kelak yang ada hisab sudah tidak bisa beramal lagi"

Kita lihat saudara-saudara kita yang berada dibawah papan-papan kuburan, mereka dahulu bermacam-macam status mereka, ada Pejabat, ada Bupati, ada Pegawai, ada orang miskin, ada orang kaya, ada panglima, sekarang mereka sudah tidak bisa beramal sudah tidak ada yang bisa mereka lakukan.

Sekarang kita masih hidup kita masih bisa beramal kita masih bisa wujudkan cita-cita kita.

√ Kalau ingin menghafal Al-Qur'ān masih bisa.
√ Kalau ingin membangun masjid masih bisa.
√ Kalau ingin berbakti kepada orang tua masih bisa.
√ Kalau ingin bersedekah masih bisa.

Kita masih bisa bercita-cita dan masih kita bisa wujudkan, akan datang suatu hari dimana semua ini tidak bisa lagi kita lakukan.

Oleh karenanya berusahalah kita berbahagia di dunia dan diakhirat, berusaha kita meraih kesuksesan di dunia dan juga di akhirat.

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما.

اللّهمّ صلّ على محمّد وآل محمّد كما صلّيت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنّك حميد مجيد ، وبارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنّك حميد مجيد.

اللهم اغفرللمسلمين والمسلمات، والمومنين والمومنات، الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدّعوات، فيا قاضي الحاجات.

اللهم آت نفسي تقواها وزكها أنت خيرمنزكاها أنت وليها ومولاها.

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفرلنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين.

ربنا تقبل منا صيامنا ، وقيامنا، وركوعنا وسجودنا ، رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَآ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
__________
◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

⑴ Pembangunan dan Pengembangan Rumah Tahfizh
⑵ Support Radio Dakwah dan Artivisi
⑶ Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jama'ah di Indonesia

📝 Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
-----------------------------------------
BACA SELENGKAPNYA

Membalas Celaan dengan yang Setimpal


🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 09 Jumadil Ūla 1438 H / 06 Februari 2017 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 19 | Membalas Calaan Dengan Yang Setimpal
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H19
~~~

MEMBALAS CELAAN DENGAN YANG SETIMPAL

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan Akhawāt shahābat BiAS yang di rahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita masuk dalam pembahasan hadīts yang ke-19.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالاَ فَعَلَى الْبَادِئِ مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُومُ » رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِى الصَّحِيحِ
Dari Abū Hurairah berkata, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

"Dua orang yang saling mencaci maki, maka apa yang diucapkan oleh keduanya dosanya kembali kepada yang memulai memaki, selama yang dimaki (dizhalimi) tidak melampaui batas."

(Hadīts ini riwayat Imām Muslim nomor 2587 dalam shahīhnya)

⇒Oleh karenanya ini adalah hadīts yang shahīh tanpa diragukan lagi.

Kita tahu dalam hadīts ini, الْمُسْتَبَّانِ (dua orang yang mencaci maki), mencaci maki adalah akhlak yang sangat buruk oleh karenanya nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:
سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِِتَالُهُ كُفْرٌ.
"Mencaci seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran."

(Hadīts Riwayat Bukhāri No. 48, Muslim No. 64)

Yang dimaksud dengan cacian adalah perkataan yang buruk atau keji, yang kita lemparkan kepada saudara kita sesama muslim.

Yang terkadang cacian (makian) tersebut bisa menjerumuskan kepada perbuatan yang lebih parah sampai-sampai terjadi perkelahian atau sampai pada pertumpahan darah. Ini semua awalnya dari caci maki diantara sesama muslim.

⇒Intinya bisa menimbulkan fitnah, paling tidak adalah melemparkan perkataan keji dan buruk kepada saudara kita sesama muslim.

Di sini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjelaskan الْمُسْتَبَّانِ (dua orang yang saling mencaci maki).

⇒si A mencaci maki si B kemudian si B membalas mencaci maki si A, selama cacian keduanya berimbang, maka seluruh dosa-dosa yang diucapkan oleh keduanya ditanggung si A, karena si A yang pertama kali memulai, dengan syarat si B yang di zhalimi tidak melampaui batas.

Contohnya (misalnya) :

√ Si A mengatakan kepada si B, "Kamu gila (si B gila)." Lalu si B membalas, "Kamu juga gila."

√ Si A mengatakan, "Kamu adalah hewan." Kemudian si B membalasnya, "Kamu juga hewan."

⇒Selama si B tidak melampaui batas si A,  maka seluruh dosanya kembali kepada si A karena dia yang memulai pertama kali mencaci.

Kata nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
فَعَلَى الْبَادِئِ
"Maka seluruh dosanya ( مَا قَالاَ) , seluruh yang diucapkan oleh keduanya, dosanya kembali kepada yang memulai."

Bahkan misalnya si A mengatakan kepada si B, "Kedua orang tuamu kurang ajar." Dan si B membalasnya, "Kedua orang tuamu juga kurang ajar. Ini semua dosanya kembali kepada si A."

Namun jika si B yang dizhalimi melampaui batas, maka lain lagi ceritanya, karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memberi syarat seluruh dosanya:
فَعَلَى الْبَادِئِ مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُومُ
"Seluruh dosanya kembali kepada yang memulai (si A) selama si B yang didzalimi tidak melampaui batas."

· Kalau si B melampaui batas, contohnya:

√ Si A mengatakan kepada si B, "Kamu anjing." Kemudian si B juga mengatakan, "Kamu juga anjing," tetapi si B menambah misalnya jadi, "Kamu anjing rabies." Anjing rabies ini lebih daripada anjing.

√ Si A mengatakan, "Kamu kurang ajar." Lalu si B membalas, "Kamu juga kurang ajar, bapakmu juga kurang ajar," si B menambah tatkala itu.

Lalu bagaimana kondisi seperti ini?

⇒Ada khilaf diantara para ulamā tentang dosanya lari kemana?

Karena si A yang memulai, namun si B waktu membalas melampaui batas.

Wallāhu a'lam bishawab, sebagian ulamā berpendapat bahwasanya jika si B melampaui batas (melampaui apa yang diucapkan si A) maka kelebihan batasan tersebut dosanya di khususkan bagi si B. Allāh hanya izinkan membalas dengan setimpal.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:
وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِه
"Jika kalian membalas, maka balaslah setimpal dengan sebagaimana kalian dizhalimi."

(QS An Nahl: 126)

⇒ Boleh seandainya dia (Si A) bilang anjing maka si B juga bilang anjing atau si A memaki orang tua si B lalu si B membalas memaki dia (si A) ini tidak berdosa, seluruh dosanya kembali kepada yang memulai pertama.

Kapan?

Dengan syarat kita (yang dimaki)  tidak melampui batas.

Tatkala si B (yang dimaki) melampaui batas (misalnya):

√ Si A mencaci si B kemudian si B membalas mencaci si A dan mencaci kedua orang tua si A.
⇒ Maka kelebihan batasan ini, pendapat yang kuat dosanya kembali khusus kepada si B.

Adapun yang setara (sama) maka dosanya kembali kepada yang memulai pertama kali.

Ikhwān dan Akhawāt shahābat BiAS yang di rahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Intinya, seseorang berusaha meninggalkan hal ini dan Allāh membolehkan seseorang untuk membalas yang setimpal dan jangan sekali-kali memulai mencaci.

Kalau ada orang yang mulai duluan mencaci maka kita boleh membalas dengan setimpal dan ini diidzinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Namun meskipun demikian Allāh memberikan pilihan yang lebih baik, bila ada orang yang mencaci maki maka kita tidak perlu membalas.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:
وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ
"Kalau kalian membalas, maka balaslah yang setimpal, akan tetapi bila kalian bersabar maka itu lebih baik bagi orang-orang yang bersabar."

(QS An Nahl: 126)

Allāh Subhānahu wa Ta'āla juga berfirman:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ الله لَكُمْ
"Maafkan dan ampuni lapangkan dada, apakah engkau tidak ingin diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla?"

(QS An Nūr: 22)

Allāh juga berfirman:
وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ والله يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"Allāh memuji orang-orang yang memaafkan orang lain, dan Allāh mencintai orang-orang yang berbuat ihsan."

(QS Al 'Imrān: 134)

⇒Orang yang memaafkan orang lain adalah orang yang berbuat ihsan.

Intinya hendaknya seorang muslim itu:

⑴ Menjauhkan lisannya dari mencaci maki, pilih kata-kata yang baik.
⑵ Jadilah seorang muslim yang berakhlak mulia, menjauhkan diri dari kata-kata buruk.

Kalau dia bertemu dengan orang yang memiliki kata-kata yang buruk jangan dilayani, hendaknya menjauh dari orang seperti ini, karena pergaulan akan mempengaruhinya.

Jauhi orang-orang yang suka berkata-kata buruk.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjaga lisan-lisan kita.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menghiasi lisan-lisan kita dengan kata-kata yang indah terhadap sesama muslim dan menjauhkan kita dari kata-kata yang buruk terhadap sesama muslim.


Wallāhu Ta'āla a'lam bishawab.
____

▪Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎 www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
------------------------------------------
BACA SELENGKAPNYA

Selasa, 10 Januari 2017

Menanamkan Akhlaq Yang Mulia Kepada Anak (Bagian 5)


🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 01 Rabi'ul Akhir 1438 H / 30 Desember 2016 M
👤 Ustadz Abdullāh Zaen MA
📔 Materi Tematik | Menanamkan Akhlak Yang Mulia Kepada Anak (Bagian 5 dari 5)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-AkhlakMulia-05
🌐 Sumber: https://youtu.be/rgdmJJrbxho
-----------------------------------

MENANAMKAN AKHLAQ YANG MULIA KEPADA ANAK BAGIAN 5 DARI 5
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إنَّ الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون, َ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا الله الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ,فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allāh Tabāraka Ta'āla.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam, kepada para shahābatnya, keluarganya, dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya, hingga diakhir nanti.
Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Kita akan lanjutkan pembahasan tentang fiqih pendidikan anak.
Jadi, kalau misalnya ibu-ibu, bapak-bapak, para pendengar, para pemirsa yang berbahagia di manapun Anda berada, kalau misalnya Anda kadang-kadang bercanda dengan anak, maka anak akan merasa dekat dengan kita.
Kalau misalnya anak sudah dekat dengan kita, apa buahnya?
Buahnya itu kita akan lebih mudah untuk menanamkan nilai-nilai yang positif kepada anak kita, kenapa?
Karena anak sudah dekat dengan kita.
Ini yang kadang-kadang tidak dimiliki di dalam sebagian keluarga yang kita lihat di masyarakat.
Anak dengan orang tua itu punya jarak yang sangat jauh, sehingga anak itu lebih nyaman untuk curhat (mencurahkan isi hati) dengan temannya dibandingkan curhat kepada orang tuanya, kenapa?
Karena dia tidak merasa dekat dengan orang tuanya.
⇒ Dan ini adalah sebuah kekurangan yang harus kita perbaiki.
Jangan salahkan anak kita terlebih dahulu. Mari kita koreksi diri kita, kenapa kok anak seperti itu?
Mungkin kita sebagai orang tua yang kurang memperhatikan anak kita. Kita jarang menyapa anak kita. Kita jarang bertanya:
"Nak sudah makan atau belum?"
"Nak sudah belajar atau belum?"
"Nak sudah shalāt atau belum?"
Sapaan-sapaan seperti ini diiringi dengan kesempatan, moment-moment kita bercanda. Kita rekreasi dengan anak, kita jalan bareng sama anak. Kemudian sambil ngobrol, ngobrol bebas mungkin saat itu (yang penting positif) tidak mengarah pada sesuatu yang negatif.
Yang seperti ini akan menciptakan kehangatan di dalam rumah.
Setelah rumah itu hangat maka kita akan merasa mudah sekali untuk memberikan pengajaran kepada anak kita.
Saya akan bawakan satu penggal kisah bagaimana Nabi kita shallallāhu 'alayhi wa salla berinteraksi dengan anak kecil.
Kisah ini dituturkan oleh seorang shahābat bernama Anas bin Mālik radhiyallāhu 'anhu, diriwayatkan dalam shahīh Muslim, kata beliau:
Pada suatu hari Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengutus aku (Anas).
Anas diutus oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam untuk suatu keperluan.
Anas saat itu masih kecil.
Maka ketika dia disuruh oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, dia jawab apa?
"Emoh.. Aku ga mau," kata Anas.
Ya seperti anak-anak kitalah, kadang-kadang.
"Ya Le, pergi ke Warung!"
"Emoh.. ,kesel (capek)."
Itukan, ada saja alasannya.
Lihat bagaimana Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam menyikapi.
Anas berkata "Tidak mau, tidak mau saya."
Sebenarnya Anas di dalam hatinya ingin berangkat, tidak tahu, mungkin anak kecil iseng ya. Hanya secara lisannya dia mengatakan, "Tidak, tidak mau berangkat."
Akhirnya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam diam. Lalu Anas diam-diam dia berangkat. Dia tidak tahu kalau Nabi ternyata mengikuti di belakangnya. Sampai akhirnya Anas bin Mālik melewati anak-anak yang lagi mainan di pasar.
Kemudian dia tidak sadar ternyata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam di belakang dia.
Sambil senyum Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, Anas pun kaget melihat ternyata nabi di belakang. Akhirnya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata:
"Oh ternyata kamu berangkat juga?" Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam kepada Anas.
"Iya, wahai Nabi saya berangkat saya mematuhi perintah kamu."
Kata Anas bin Malik:
"Demi Allah, saya ini sudah melayani Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam selama sembilan tahun."
Anas bin Mālik ini melayani Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sembilan tahun. Dan kata beliau:
"(Seingatku) Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam jarang sekali mengomentari apa yang aku lakukan selama itu adalah yang baik."
"Kenapa kamu lakukan seperti ini, kenapa kamu tidak melakukan seperti itu?"
Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam jarang sekali mengomentari kecuali dalam hal-hal yang sifatnya negatif sekali, baru berkomentar Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Ini baru sepenggal dari kisah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Sampai disini pengajian kita pada kesempatan kali ini, terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf atas segala kekurangannya.
Kita tutup dengan membaca:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
____________________________

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah
1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎 www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
BACA SELENGKAPNYA

Menanamkan Akhlaq Yang Mulia Kepada Anak (Bagian 4)


🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 30 Rabi'ul Awwal 1438 H / 29 Desember 2016 M
👤 Ustadz Abdullāh Zaen MA
📔 Materi Tematik | Menanamkan Akhlak Yang Mulia Kepada Anak (Bagian 4 dari 5)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-AkhlakMulia-04
🌐 Sumber: https://youtu.be/rgdmJJrbxho
-----------------------------------

MENANAMKAN AKHLAQ YANG MULIA KEPADA ANAK BAGIAN 4 DARI 5
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إنَّ الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون, َ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا الله الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ,فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allāh Tabāraka wa Ta'āla.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam, kepada para shahābatnya, keluarganya dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya, hingga diakhir nanti.
Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Kita akan melanjutkan pembahasan tentang fiqih pendidikan anak.
Kalau misalnya kita ingin anak kita menutup aurat dengan baik, maka orang tuanya, ibunya terutama juga harus menutup aurat.
Sekarang saya kadang-kadang agak prihatin, ada anak-anak lucu-lucu berangkat TPA, pakai jilbab (pakai kerudung) bagus, māsyā Allāh.
Senang lihat anak-anak kecil-kecil sudah pada pakai kerudung.
Tapi yang miris yang antar, ibunya. Ibunya ora kudungan (tidak pakai kerudung). Itukan lucu.
Lucunya apa ustadz?
Lucunya, anak kecil itu belum wajib pakai kerudung, wong tuane (orang tuanya) sing wajib malah ora nganggo kudung (yang wajib malah tidak pakai kerudung). Anake sing durung wajib malah nganggo kudung (anaknya yang belum wajib malah pakai kerudung). Itukan lucu.
Berarti anake besok nek mangkat TPA rasak nganggo kudungan ustadz? (Berarti besok bila anaknya pergi ke TPA tidak usah pakai kerudung, Ustadz)?
Ya salah, bukan seperti itu.
Justru ibu besok nganter anaknya pakai kerudung. Itu namanya memberikan contoh yang real (yang nyata).
Inilah kenyataan-kenyataan yang kita lihat di masyarakat kita.
Kalau misalnya kita ingin anak kita berperilaku baik maka kita pun harus memberikan contoh berperilaku yang baik. Dan ini kita mengajar sekaligus belajar.
Jadi ketika kita mengajarkan perilaku yang baik pada anak kita, kita harus menjadi contoh yang baik pada anak kita di dalam berperilaku, di dalam bertutur kata.
Kalau misalnya kita ingin anak kita itu suaranya tidak keras ketika berbicara, ingin anak kita punya tutur kata yang sopan, maka kita pun berusaha memberikan contoh tutur kata yang sopan.
Sama ketika kita tidak ingin anak-anak kita teriak, kita juga jangan membiasakan untuk teriak-teriak. Maka ini langkah yang pertama.
▪Jadi langkah yang pertama untuk mencetak generasi yang berakhlak mulia adalah dimulai dari tindakan nyata dari orang tuanya agar mereka berperilaku dengan perilaku yang baik.
Dari mana kita bisa melihat, mencontoh perilaku yang baik sebagai umat Islām?
Tentu kita memiliki suri tauladan kita semua, yaitu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Beliau memiliki akhlak yang sampai menyebabkan Allāh memujinya, sebagaimana dalam Al Qurān Allāh berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
"Wahai Muhammad, akhlak engkau itu betul-betul mulia."
(QS Al Qalam: 4)

Kalau yang muji Allāh sudah jaminan mutu (yang muji Allāh). Karena yang namanya pujian itu akan diukur dari siapa yang memujinya.
Kalau ada orang yang memuji orang lain, tapi orang yang memuji itu tidak memiliki kedudukan atau tidak dianggap pujiannya, maka tidak berharga. Tapi ini yang muji adalah Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Maka kita sebagai umat Islām tidak usah kita mencari teladan-teladan dari yang lain-lainnya. Ambil saja teladan dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Makanya kalau kita perhatikan, Nabi kita Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam (terutama sama anak-anak kecil), beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam seringkali bercanda dengan mereka, bermain dengan anak kecil, dan itu banyak contohnya.
Ketika wudhū kadang-kadang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bercanda dengan mereka. Kadang-kadang ketika Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam lewat anak-anak lagi bercanda, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam nimbrung di situ.
Kemudian Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam juga tertawa, senyum bersama mereka. Ketika menaiki tunggangan, Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam membonceng salah seorang shahābat untuk naik di belakangnya. Kenapa Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sedemikian rupa murah senyum kepada anak?
Ada sebagian orang tua kalau ketemu sama anak itu mukanya muka besi. Muka besi itu tidak pernah tersenyum, kayak besi. Makanya tidak pernah senyum.
Dia anggap kalau dia seperti itu dia punya wibawa. Padahal wibawa itu bukan seperti itu caranya.
Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika beliau senyum dengan anak-anak, beliau bermain dengan anak-anak. Beliau bercanda dengan anak-anak pada waktunya tentunya. Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ingin agar anak itu merasa dekat dengan beliau.
Sampai disini pengajian kita pada kesempatan kali ini, terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf atas segala kekurangannya.
Kita tutup dengan membaca:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
____________________________

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah
1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎 www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
----------------------------------------
BACA SELENGKAPNYA

Menanamkan Akhlaq Yang Mulia Kepada Anak (Bagian 3)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 29 Rabi'ul Awwal 1438 H / 28 Desember 2016 M
👤 Ustadz Abdullāh Zaen MA
📔 Materi Tematik | Menanamkan Akhlak Yang Mulia Kepada Anak (Bagian 3 dari 5)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-AkhlakMulia-03
🌐 Sumber: https://youtu.be/rgdmJJrbxho
-----------------------------------

MENANAMKAN AKHLAQ YANG MULIA KEPADA ANAK BAGIAN 3 DARI 5
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إنَّ الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون, َ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا الله الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ,فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allāh Tabāraka Ta'āla. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam, kepada para shahābatnya, keluarganya, dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya, hingga diakhir nanti.
Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Kita akan melanjutkan pembahasan tentang fiqih pendidikan anak.
Kalau misalnya anak itu dari kecil sudah terbiasa untuk sabar, sudah terbiasa untuk bisa menerima nasehat, sudah terbiasa untuk tidak serampangan, sudah terbiasa untuk berbagi, karena orang tuanya yang membiasakan itu, maka dengan idzin Allāh besarnya akan seperti itu.
Maka disini kita perlu melihat anak kita.
Setiap manusia itu punya sifat dasar buruk. Diantara sifat dasar buruk, yaitu:
√ Rakus
√ Bodoh
√ dan seterusnya.
Nah, kalau misalnya kita melihat ada potensi sifat buruk tersebut dan kita melihat itu agak menonjol di dalam diri anak kita, maka tanggung jawab orang tua adalah berusaha memperbaiki. Dan tidak boleh ada alasan, "Ini sudah bawaan bayi," tidak boleh seperti itu.
Justru kita harus punya tanggung jawab untuk merubah.
Bagaimana caranya gawan (bawaan) bayi yang jelek itu bisa berubah menjadi baik?
Ya itulah tugasnya orang tua!
⇒ Misalnya ada anak, anak ini kok kalau makan tidak pernah mikir adik-adiknya atau kakaknya alias ego (egois).
Kalau misalnya kita melihat, kita bisa membaca, nih, anak kita ini kalau makan tidak pernah ingat adiknya, atau kakaknya, atau saudaranya, oh ini perilaku yang jelek.
Kalau (misalnya) kita sudah mencium adanya bau seperti itu, maka kita sebagai orang tua, setelah kita bisa mendeteksi adanya perilaku buruk, benih-benih itu, maka jangan biarkan benih itu akan semakin besar.
Kalau bisa benih itu diputus, sebelum benih itu membesar.
Itulah tugasnya orang tua!
Ketika orang tua melihat ada anak yang punya potensi perilaku buruk, dia punya sifat kayak tadi misalnya egois, maka kita sebagai orang tua harus berusaha untuk mengkikis sifat itu sedikit demi sedikit.
Di antara caranya, misalnya:
Kita ajak anak itu untuk pergi ke warung untuk beli jajan (misalnya), "Ayo nak beli jajan."
Dia milih, ternyata dia ngambil cuma satu jajan.
Lalu kita tanya, "Loh buat adik mana?"
→ Dia mulai dilatih, ternyata saya ini hidup di rumah ada adik, atau ada kakak.
"Loh buat adik, buat kakak mana, oh iya, jadi beli berapa ini?"
Beli tiga, satu buat kamu, satu buat adik, satu buat kakak (itu namanya pembiasaan).
Kalau misalnya kita melihat kok anak ini agak tergesa-gesa atau gampang emosi. Maka kita sebagai orang tua tidak boleh membiarkan anak itu berkembang di dalam sifat emosinya. Karena nanti kalau sudah terlanjur besar, kita akan kesulitan untuk merubah sifat yang sudah terlanjur melekat dan mendarah daging dalam diri anak kita.
Kalau kita melihat anak kita emosian saat dia mengungkapkan emosinya, kita dekap dia (misalnya) atau kita omongi dengan pelan-pelan atau mungkin ketika dia lagi emosi sulit diomongi, kita ngomonginya ketika dia sedang kondisi psikologisnya sedang stabil.
Kita sampaikan kepada dia, "Nak apa manfaatnya suka marah-marah, apakah kamu mendapat pahala dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla kalau marah-marah, tahu gak kalau kamu marah-marah itu yang senang siapa?"
Setan.
Apakah kamu pengen bikin senang setan atau kamu pengen bikin setan itu sedih?
Kalau misalnya kamu marah-marah gitu setan tambah senang. Setan itu musuh kita. Jangan bikin musuh kita senang. Bikinlah musuh kita sedih.
Bagaimana caranya?
Kalau misalnya kamu sedang marah, coba kamu berta'awudz, mengucapkan apa?
أَعُوذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Dilatih anak kita.
Jadi kalau misalnya kita melihat ada potensi sifat-sifat buruk yang ada dalam diri anak kita, maka tugasnya orang tua sedini mungkin adalah berusaha untuk memutus potensi tersebut dan tidak membiarkan potensi keburukan itu akan semakin membesar.
Sebaliknya kalau kita melihat anak kita punya potensi yang baik, itulah tugas orang tua untuk terus mengembangkan potensi yang baik tersebut.
Maka langkah yang pertama menuju mencetak anak yang mulia akhlaknya adalah kita harus membina anak kita secara nyata.
Secara nyata itu bagaimana?
⇒ Secara nyata itu antara lain adalah kita harus menjadi teladan yang baik buat anak kita.
Sampai disini pengajian kita pada kesempatan kali ini, terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf atas segala kekurangannya.
Kita tutup dengan membaca:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
____________________________

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah
1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎 www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
----------------------------------------
BACA SELENGKAPNYA

Menanamkan Akhlaq Yang Mulia Kepada Anak (Bagian 2)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 28 Rabi'ul Awwal 1438 H / 27 Desember 2016 M
👤 Ustadz Abdullāh Zaen MA
📔 Materi Tematik | Menanamkan Akhlak Yang Mulia Kepada Anak (Bagian 2 dari 5)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-AkhlakMulia-02
🌐 Sumber: https://youtu.be/rgdmJJrbxho
-----------------------------------

MENANAMKAN AKHLAQ YANG MULIA KEPADA ANAK BAGIAN 2 DARI 5
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إنَّ الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون, َ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا الله الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ,فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allāh Tabāraka wa Ta'āla. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam, kepada para shahābatnya, keluarganya dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya, hingga diakhir nanti.
Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Kita akan melanjutkan pembahasan tentang fiqih pendidikan anak.
Kalau kita menginginkan anak kita baik, maka kita harus berusaha. Banyak orang tua yang ingin anaknya baik tetapi dia tidak pernah berusaha.
. Dia ingin anaknya bertutur kata lembut, tapi dia tidak pernah membiasakan anaknya bertutur kata lembut.
. Dia ingin anaknya punya unggah-ungguh tetapi dia tidak pernah mengajarkan anaknya unggah-ungguh.
. Dia ingin anaknya taat beribadah tetapi dia juga tidak memperhatikan, tidak pernah menegur tatkala anaknya tidak beribadah dengan baik.
Ini namanya jauh panggang dari api.
Bagaimana mungkin kita memiliki anak yang baik prilakunya kalau kita tidak pernah berusaha?
Kita sebenarnya sudah diberi bantuan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla yang luar biasa, yaitu berupa modal.
Apa itu modalnya?
Modalnya adalah anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, fitrah yang bersih.
Jadi, sebenarnya anak itu gampang untuk diarahkan.
Sehingga tidak benar bila ada ungkapan yang mengatakan, "Anakku memang susah sekali."
Kenapa?
Karena kita sendiri yang tidak bisa memanfaatkan modal yang Allāh berikan.
Seharusnya ketika ada sesuatu yang bersih, fitrah yang bersih, seperti kertas yang putih. Kertas putih ini sudah merupakan modal. Bagaimana kita akan mengambar diatas kertas itu? Dengan gambar yang bagus atau dengan gambar yang jelek.
Sekarang, bila ada kertas yang putih kemudian kita menggambar disitu dengan gambar yang jelek, lalu yang salah siapa?
Yang salah yang mengambar atau kertasnya?
Yang salah adalah yang menggambar, bukan kertasnya.
Jadi, sebenarnya kita sudah diberi modal oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla anak itu lahir dalam keadaan fitrah.
Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
"Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah."
(HR Abu Daud nomor 4093 versi Baitul Afkar Ad Dauliah nomor 4716)

Fitrah yang murni yang bersih mempunyai modal kecenderungan kepada sesuatu yang baik.
Sehingga keliru bila ada orang tua yang selalu menyalahkan anaknya ketika berperilaku jelek.
Anak itu sudah diberi oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla kecenderungan untuk memilih sesuatu yang baik.
Sekarang bagaimana cara kita memolesnya?
Kita sudah diberi modal, kalau seandainya kita rugi di dalam berdagang padahal kita sudah punya modal, jangan disalahkan modalnya tapi salahkanlah diri kita.
Kenapa kita tidak baik-baik di dalam mengelola modal tersebut?
Apabila kita sudah diberi modal seharusnya kita sudah bisa menghasilkan keuntungan bukan kerugian.
Maka disinilah tugas kita sebagai orang tua adalah tugas yang cukup (sangat) mulia namun cukup berat.
Kenapa?
Karena banyaknya tantangan-tantangan. Perilaku-perilaku jelek yang ada disekeliling kita.
Tidak usah kita keluar rumah, di dalam rumah kita sendiri kadang-kadang kita menyuruh untuk berperilaku yang baik kepada anak kita tapi disisi lain kita menyediakan alat yang lebih kuat untuk merubah perilaku anak tersebut.
Apakah itu? Televisi
Sekarang kita menyuruh anak kita untuk berperilaku baik, tapi sebentar saja dia melihat televisi, disitu ada film tentang bagaimana orang bertutur kata dengan tutur kata yang jelek.
Yang namanya film terkadang ditampilkan kata-kata yang jelek sehingga semua itu melekat dalam benak anak kita. Anak kita kadang bisa meniru kata-kata yang tidak baik dari televisi tersebut.
Apa orang tuanya yang mengajarkan ini semua?
Saya pikir tidak, itu semua mereka lihat dari tontonan. Anak kita disuruh untuk menjaga auratnya ternyata di televisi yang dilihat adalah tontonan wanita-wanita yang membuka aurat.
Jadi disisi lain kita berusaha menanamkan, kita berusaha untuk merajut kemudian kita sendiri yang membongkar rajutan tersebut.
Itu baru berbicara di dalam rumah belum bila kita berbicara di luar rumah.
Ada tetangga yang tidak baik. Makanya ada ungkapan arab yang mengatakan:
الجَارُ قَبلَ الدَّارِ
"Tetangga sebelum rumah."
Apa maksudnya?
Maksudnya kalau kita ingin mengontrak rumah atau membangun rumah sebelum memilih lokasi rumahnya, dilihat dulu siapa tetangganya.
Jadi jangan milih karena tanahnya cocok baru kemudian melihat tetangga, bukan!
Pertama kali kita harus survey dahulu tetangganya seperti apa.
Apakah kanan kirinya adalah orang-orang shālih yang baik-baik, rajin shalāt?
Perilaku anak-anaknya bagaimana?
Jadi, kita harus mewaspadai itu semua karena apa?
Karena kita punya tanggung jawab untuk mendidik anak kita.
Makanya Imām Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullāh dalam salah satu kitābnya yaitu Tuhfatul Maudud bi Ahkāmil Maulud, beliau menjelaskan bahwa salah satu yang sangat dibutuhkan oleh anak ketika masa kecil adalah memperhatikan akhlaknya.
Kenapa?
Karena anak itu akan tumbuh sesuai dengan kebiasaan.
Kalau misalnya dari kecil dia sudah terbiasa untuk emosi, untuk serampangan, untuk rakus, untuk tergesa-gesa, untuk keras kepala, apabila dari kecil dia sudah terbiasa seperti itu maka dia akan kesulitan untuk merubah prilaku jelek itu ketika dia sudah dewasa.

Sampai disini pengajian kita pada kesempatan kali ini, terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf atas segala kekurangannya.
Kita tutup dengan membaca:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
____________________________

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah
1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎 www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
----------------------------------------
BACA SELENGKAPNYA

Menanamkan Akhlaq Yang Mulia Kepada Anak (Bagian 1)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 27 Rabi'ul Awwal 1438 H / 26 Desember 2016 M
👤 Ustadz Abdullāh Zaen MA
📔 Materi Tematik | Menanamkan Akhlak Yang Mulia Kepada Anak (Bagian 1)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-AkhlakMulia-01
🌐 Sumber: https://youtu.be/rgdmJJrbxho
-----------------------------------

MENANAMKAN AKHLAQ YANG MULIA KEPADA ANAK BAGIAN 1
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إنَّ الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا الله الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allāh Tabāraka Ta'āla.
Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Kita akan membahas fiqih tentang pendidikan anak: "Bagaimana cara menanamkan akhlak yang mulia kepada anak".
Sekarang, sesuatu yang memprihatinkan di masyarakat adalah melihat prilaku sebagian anak-anak kita. Kita memperhatikan banyaknya prilaku yang tidak baik dari sebagian anak-anak kepada orang tuanya atau kepada teman-temannya atau kepada yang lainnya. Tidak sedikit kita perhatikan hal tersebut.
Sehingga, kadang-kadang ada orang tua, manakala dia melepaskan anaknya pergi ke sekolah atau pergi kemana saja timbul rasa was-was di dalam hatinya,
"Jangan-jangan nanti anak saya nanti terpengaruh dengan temannya dan jangan-jangan..."
Selalu itu yang timbul di dalam perasaan hatinya. Karena memang kenyataannya di luar kita perhatikan banyak sekali anak yang prilakunya tidak baik.
Bahkan tidak jarang kita melihat ada anak yang berani membentak orang tuanya, anak tidak menurut kepada orang tuanya.
Bahkan juga pernah kita dengar berita ada anak berani membunuh orang tuanya.
Darimana sumber akhlak yang buruk tersebut?
Lain halnya seandainya kita melihat ada seorang anak yang baik perilakunya, lembut tutur katanya kemudian juga taat beribadah, pemikirannya terdidik. Ketika kita melihat anak seperti ini kita akan kagum dan bahkan mungkin di zaman kita ini kalau ada anak yang seperti itu, bisa jadi itu merupakan manusia langka.
Ketika kita dapatkan ada anak yang tutur katanya baik, sopan, taat beribadah kita akan senang bila bertemu dengan dia.
⇒ Siapa yang tidak senang melihat anak yang tutur katanya baik?
⇒ Siapa yang tidak senang melihat anak yang sopan di dalam berperilaku?
⇒ Siapa yang tidak senang melihat anak yang taat beribadah, shalāt berjama'ah di masjid?
Tapi coba lihat kondisi masjid-masjid kaum muslimin. Kebanyakan yang shalāt adalah orang-orang yang sudah lanjut usia.
Lalu di mana anak-anak kaum muslimin?
Mereka sibuk, bila tidak di depan televisi, mereka berada di warnet main game atau PS. Kalau sore-sore sibuk di lapangan bola. Bukan tidak boleh main bola, tapi kadang-kadang sampai nabrak waktu shalāt maghrib.
Yang namanya pengajian-pengajian ramai didatangi kalau hanya setahun sekali. Pengajian yang rutin jarang didatangi.
Itulah kenyataan yang ada.
Makanya, kalau kita melihat ada anak yang prilakunya baik maka kita senang. Bila bertemu dengan mereka ibarat menemukan mutiara.
Apakah cukup dengan senang saja?
Tentunya tidak berhenti sampai disitu
Ketika kita melihat ada anak yang berprilaku baik, sopan dalam bertutur dan berkata, kita berusaha untuk menebak, kenapa anak ini bisa seperti ini?
Yang namanya anak, lahir ke dunia tidak tiba-tiba ada, itu tidak mungkin. Pasti anak ini lahir dari orang tua (bapak dan ibu) kalau misalnya kita melihat ada anak yang akhlaknya mulia berarti kita bisa menebak, kemungkinan besar anak ini dididik dengan baik oleh orang tuanya.
Mengapa demikian?
Karena prilaku anak itu sangat terpengaruh dari pendidikan yang dialami oleh dia. Makanya bila ada anak baik biasanya pendidikan dari orang tuanya juga baik, ibarat bibit unggul.
Karena apa?
Karena induknya baik.
Maka dari sinilah kita mengetahui pentingnya tugas orang tua.
Sampai disini pengajian kita pada kesempatan kali ini, terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf atas segala kekurangannya.
Kita tutup dengan membaca:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
____________________________

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎 www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
----------------------------------------
BACA SELENGKAPNYA

Sabtu, 07 Januari 2017

Ciri-Ciri Orang Yang Terkena Fitnah


🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 02 Rabi'ul Akhir 1438 H / 31 Desember 2016 M
👤 Ustadz Zainal Abidin, Lc
📔 Materi Tematik | Ciri-Ciri Orang Yang Terkena Fitnah
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-ZA-CiriKenaFitnah
🌐 Sumber: https://youtu.be/TgzP5PqEyr4
-----------------------------------

CIRI-CIRI ORANG YANG TERKENA FITNAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ، أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ،
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ،
Kaum muslimin yang berbahagia, Shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menegaskan:
إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ
"Sesungguhnya orang yang paling berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah."
(Hadīts, shahīh riwayat Abū Dāwūd nomor 4263)

Dari sini kita bisa pahami bahwa orang yang paling celaka, orang yang paling sengsara dan binasa adalah orang yang menceburkan bahkan menjadi dalang dalam fitnah.

◆ Tanda-tanda orang tercebur ke dalam fitnah ada 4 (empat), yaitu:

⑴ Dia memandang yang dulunya halal sekarang dianggap harām atau (sebaliknya) yang dulunya harām sekarang dianggap halal.

Demikian itu bukan karena dulu dia tidak mengerti dalīlnya kemudian sekarang paham, bukan!

Atau dulu dia tidak memahami dalīl itu dengan benar, sekarang paham, tidak!

Tapi murni pengaruh-pengaruh negatif lingkungan yang ada disekitarnya.

Bisa karena:

√ Buku bacaan yang dia baca.
√ Teman yang mengitarinya atau,
√ Jama'ah kelompok yang diikutinya.

Sehingga muncul berbagai macam syubhat yang ada diotaknya (pikirannya)

Dengan demikian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menegaskan bahwa:
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
"Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti malam yang pekat (gelap gulita). Di pagi hari seorang dalam keadaan beriman, lalu kafir pada sore hari. Di sore hari seorang dalam keadaan beriman lalu kafir pada pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan kenikmatan dunia."
(Hadīts riwayat Muslim nomor 169 versi Syarh Muslim nomor 118)

Dengan demikian suatu yang paling ditakutkan oleh seorang mu'min adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada keagamaannya (fitnah yang menimpa agamanya).

Sehingga Hudzaifah Ibnu Yaman mengatakan:
فَاعْلَمْ أَنَّ الضَّلالَةَ حَقَّ الضَّلالَةٍ أَنْ تَعْرِفَ مَا كُنْتَ تُنْكِرُ, وَأَنْ تُنْكِرَ مَا كُنْتَ تَعْرِفُ, وَإِيَّاكَ وَالتَّلَوُّنَ فِي دِينِ الله تَعَالَى, فَإِنَّ دِينَ الله وَاحِدٌ. (شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة لللالكائي)
"Ketahuilah, kesesatan dari biang kesesatan adalah engkau anggap baik yang dulunya kamu ingkari dan kamu ingkari yang dulunya kamu anggap baik. Dan waspadalah terhadap warna-warni di dalam agama Allāh Ta'ālā. Sesungguhnya agama Allāh satu."
(Kitab Syarh Ushul I'tiqād Ahlus Sunnah wal Jama'ah oleh Imam Al Lālikai)


⑵ Berwarna-warni di dalam agamanya (التَّلَوُّنَ فِي دِينِ).

Berpindah-pindah di dalam prinsipnya dan tidak memiliki satu pegangan yang tetap di dalam agamanya.

Ini yang dikatakan oleh Ummar bin AbdulAziz akibat banyaknya debat, banyaknya adu mulut.
مَنْ أَكْثَرَ الخُصُوْمَات أَكْثَرَ تَنَقُّلَ
"Barangsiapa yang banyak adu mulut, maka dia akan gampang (banyak) untuk berubah."

Shahābat BiAS yang berbahagia.

Menjadi muslim dimana di dalam memegang prinsipnya, bak air di daun talas adalah ciri orang munāfiq.

Dan memberikan warna shibqhah Islām di dalam dirinya berubah-ubah seperti bunglon adalah suatu yang berbahaya.

Karena kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bahwa manusia paling buruk adalah ذا الوجهين, manusia yang memiliki dua wajah.

Dengan demikian kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:
وَإِيَّاكَ وَالتَّلَوُّنَ فِي دِينِ
"Waspadalah kamu terhadap sikap berubah-ubah warna di dalam agama."

√ Yang kemarin dia katakan sesat, sekarang dia katakan benar.
√ Yang kemarin dikatakan manhaj sekarang dikatakan khilafiyyah.

Contoh:

⇒ Banyak orang yang dulu menganggap safarnya wanita tanpa mahram adalah harām, tetapi sekarang dipandang halal.

⇒ Demo dulu dianggap perkara manhaj sekarang ternyata khilafiyyah.

Ini masalah berat.


3. Mengikuti syubhat (اتبع المتشابهات) dan tidak mau mengembalikan kepada yang muhkamat.

Ini jelas sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla:
فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ
"Adapun orang-orang yang ada di dalam hatinya penyimpangan ( زَيْغٌ) maka dia akan mengikuti yang mutasyābih dalam rangka untuk mencari-cari takwil yang bathil dan mengikuti hal-hal yang sifatnya menyimpang, takwil-takwil yang tidak benar dalam hal-hal yang sebetulnya tidak tahu takwil secara benar kecuali Allāh Subhānahu wa Ta'āla."
(QS Al 'Imrān: 7)

Kita temui banyak diantara tokoh, diantara mereka yang dikatakan ulamā atau minimal ahlul 'ilmi yang dulu sangat tegas di dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan keagamaan, sangat bagus di dalam menjabarkan naskh-naskh yang muhkamah, tetapi setelah beberapa kondisi melalui dia (masa melewati dia) maka hal-hal yang diangkat kebanyakan adalah mutasyabihat.


Dan tanda orang tercebur ke dalam fitnah dan akhirnya bisa menjadi dalang fitnah adalah:

4. Mentolerir kebatilan dan bahkan memberikan banyak toleran terhadap berbagai macam penyimpangan-penyimpangan (التسويغ للباطل وتعديل له).

Diawali dengan mereka memuji tokoh-tokoh kebathilan, mendekati tokoh-tokoh kebathilan bahkan kompromi dengan kebathilannya.

Akhirnya tidak mau ngomong terhadap berbagai macam penyimpangan-penyimpangan agama, baik itu syirik, bid'ah maupun kufur bahkan memusuhi (menyalahkan) orang yang selama ini menjelaskan kebathilan.

Menyalahkan orang yang menjelaskan tentang kebid'ahan entah karena dikatakan melawan banteng, melawan berbagai macam kekuatan-kekuatan yang mayoritas atau dia telah menabrak tembok keras yang itu akan membahayakan dirinya sendiri.

Minimal takut dakwahnya hilang dari peredaran masyarakat atau terpicunya masa rakyat kecil untuk melawan dia dan berbagai macam alasan-alasan yang ada.

Semoga kita semuanya bisa terhindar dari empat yang menjadi ciri khas orang terjatuh kedalam fitnah yang suatu ketika akan menjadi dalang fitnah.

Saya ulas lagi,

(1). Yang dulu dianggap harām sekarang menjadi halal atau sebaliknya.

(2). Berubah-ubah warna dalam berdakwah, beragama dan dalam mengikuti ajaran dien.

(3). Mengikuti yang syubhat dan meninggalkan yang muhkamat.

(4). Mentolerir kebathilan, toleran terhadap berbagai macam penyimpangan-penyimpangan.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjauhkan kita dari itu semua dan kita diberikan keteguhan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam berpijak, memegang prinsip sampai kita bertemu Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
"Wahai orang-orang yang berimān, bertaqwalah kepada Allāh sebenar-benar taqwa dan janganlah sekali-kali kamu mati (bertemu Allāh) melainkan dalam keadaan beragama Islām."
(QS Al 'Imrān: 102)
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاستَغْفِرُ الله لِيْ وَلَكُمْ وَاستغفر الله العظيم إن الله هو الغفور الرحيم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
__________

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎 www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
----------------------------------------
BACA SELENGKAPNYA
Privacy Policy      Disclaimer      Sitemap      Contact Us      © 2017  Ekataba
Powered by Blogger